Rabu, 01 Desember 2010

AKU,..TUHAN..HARAPAN



Tuhan, selama ini aku protes denganmu melalui doa, tapi mungkin engkau
lupa atau jenuh dengan doaku sehingga tadahan tangan engkau abaikan.
Tuhan ... Hakmu memang menegur sang hamba yang lalai, tapi mengapa
justru engkau lupa atas mereka yang zalim, mengapa tidak yang zalim

aku dilahirkan disebuah desa kecil yang mengapung diatas aliran sungai
kapuas, masa kecil disana kuhabiskan dengan berkutat diliarnya
naturalisme alam, sejuk, indah, air yang jernih, ratusan spesies ikan
air tawar serta kesejukan hembusan angin yang tak pernah luput
membelai kulit tubuhku yang kusam.
Beranjak dewasa, pemerintah menuntut agar anak anak bangsa memakan
bangku sekolah, katanya agar penghuni negeri ini lebih pintar dan
tidak tertinggal dari negara eks penjajahan (baca;jepang). Mungkin
karena orang tuaku seorang guru sehingga ia merasa malu kalau aku
tidak ikut talian negara atau titah sang kepala negara.
Massa itu aku tidak banyak tau menau, yang terngiang aku harus kekota
untuk sekolah. Berat meninggalkan kampung yang selalu merangkulku
dalam keakraban, dan pastinya hanya air mata yang menjadi tanda bahwa
aku sayang dengan apa yang ada didesa.

Sekolah menegah pertama aku lewati, kerinduan kampung sepertinya tak
bisa ditahan lagi, meski tak ada restu orang tuaku aku meluncur dengan
sebuah bis tua bersama iringan salam lubang dalam serta kerikil tajam
yang ada disepanjang jalan.
Menatap bibir kampung dari kejauhan tak terlihat ada perubahan, namun
ketika aku transit dari bis ke perahu kayu untuk mencapai kampungku
mulai terlihat ada yang berbeda.
Sungai yang dulunya hanya dihiasi ranting ataupun batang kayu yang
hanyut sekarang malah berganti barisan telampung pukat penangkap ikan,
warga kampung yang sebelumnya hanya mengayuh sampan kini sudah
berganti speed meski hanya berkekuatan 2,2 pk.
Sejenak kulihat kampungku yang masih berjarak 300 meter didepan,
susunan rumah belum terlihat ada perubahan, Alhamdullillah aku sampai.
Peluk dan cium uwak uwak (panggilan bibi di kapuas hulu) sepertinya
menandakan kerinduan yang besar, bahkan para tetangga juga ada yang
mendampingi sekedar ingin melihat apakah itu saya, yang beberapa tahun
lalu meninggalkan desa untuk memenuhi keinginan sang kepala negara.
beranjak malam, aku mulai merasa tidak seperti dikampung sendiri,
suara jankrik yang menjadi teman bercanda sekarang sudah berganti
suara berisik mesin doumpeng pengganti nyala pelita. Ah..... Mungkin
ini sebagian yang dinginkan pemimpin negeri agar rakyatnya pintar.
Dulu jika magrib menjelang puluhan muda mudi memenuhi kerarin
(jembatan desa) untuk berbondong kemasjid tertua yang ada
didesa,sholat mengaji belajar bersanji dan belajar agama. Tapi
sekarang ini shap masjid kulihat tinggal satu baris itupun hanya
terisi satu imam didepan, seorang bilal dan 2 warga yang tinggal tak
jauh dari masjid berada, sisanya aku perhatikan cendrung memilih
berada didepan tv hitam putih dengan kedipan cahaya yang menyakitkan
mata, teman-temanku yang dulu seirama jika barsanji, kini mulai
berubah serirama dengan dendangan lagu rhoma irama yang slalu stanby
dilayar kaca, apakah ini bagian dari keinginan pemerintah pikirku saat
itu.
Wah ...apakah ini juga bagian yang diinginkan pemerintah pikirku kala itu.....
Perubahan memang belum begitu tampak jelas, dan mungkin ada beberapa
kemungkinan, pertama pendidikan belum maju atau kedua orang desa yang
memang masih lugu ( termasuk aku wkwkwk).
Kembali kekota dengan menyandang celana panjang abu abu bagi orang
mungkin sudah biasa, tapi bagi orang desa sepertiku beban abu abu
cukup berat, bukan karena tak mampu berfikir tetapi berat karena biaya
sekolah massa itu sangat mahal apalagi abu abu yang aku pakai
beratribut milik dan dikelola swasta.
tak perlu dipaparkan luka luka dan liku liku selama menyandang gelar
abu abu. aku kembali kedesa........"
dan lagi aku terperangah, mesin spead 2,2 pk kini sudah berganti long
boat berkekuatan 40 hingga 100 pk, pukat pukat kecil juga berganti
jermal jermal raksasa, luar biasa dalam hatiku berkata "ini kemajuan
atau kehancuran, inikah yang diinginkan negeri. "
300 meter dari bibir desa kulihat tanah lapang dimana dimana, bahkan
ada setumpukan tanaman hijau kekuningan juga.
"nun kebun sawit kawan, pemerintah membawa orang kaya kedesa kita
untuk buatkan kebun, kita nanti dapat bagi juga," aku tersentak
mendengar ucapan teman yang mengemudikan spit dibelakangku, dia
ternyata teman ku waktu kami masih mengemban amanah sekolah bercelana
merah.
Belum 200 meter ke bibir kampungm air dulunya kulihat jernih sekarang
terlihat putih bak tumpahan susu.
"biasa air tu kawan, tu air bekas aliran kerja emas mesin jack dihulu
sungai, ku ninga hasil lumayan besar" lagi cerocosan sang sahabat
kudengar dari belakang.
Inikah kampung danau sekulatku, inikah nibung ku, inikah selimbau ku.
Mana keramahan mereka, mana keramahan para sanak famili. Sekarang
semua terlihat sibuk. Siang hari sepi, malam sepi masjid pun sudah tak
seperti dulu.
penasaran dengan apa yang ada, aku pergi ketempat kebangganku dulu
danau sentarum, yah danau sentarum. Tempat ini semasa kecil adalah
tempatku bermain sambil bekerja membantu mak ngah yang hidup dari
menyalai ikan, tapi lagi lagi aku kecewa, danau sentarumpun sudah
tidak seperti dulu, tak ada lagi ikan ikan yang bisa kutangkap hanya
dengan tangan, yang terlihat tinggal hamparan jermal. Ikan arwana yang
dulu jadi santapan biasa sekarang sudah tinggal lagenda.
Prihatin didalam hati dengan kondisi ini, kenapa ketika semua
bertebaran dimana-mana sawit,jermal,emas tidak bisa membahagiakan
warga desa,buktinya wajah rumah rumah desa tetap sama, lanting lanting
danau sekulat tetap sama, dinding kulit kayu, batangan lanting yang
lapuk, gubuk gubuk tua yang seharusnya sudah pensiun lama tetap saja
ada.
dalam hati "aku harus bicara, aku harus bisa kembalikan warna desa
meski tidak seperti semula, tapi dengan apa"
Kembali aku kekota sintang dengan selimut persoalan desa, dalam hati
berjanji ingin memperbaiki negeri sendiri, tapi dengan apa, ananda
bukan orang kaya,.
Waktu berjalan seperti roda pedati.kala itu stasiun tv pemerintah di
kalimantan barat membuka peluang kerjanya, setah berkutat dengan
beberapa teori akupun katanya boleh bergabung meski dengan sebuah
batasan batasan.
Yessss.... Dalam hatiku aku bisa menyuarakan apa yang ada didesa.
Akukan kembalikan desaku meski tak seperti semula, akukan kembalikan
kepercayaan diri desa agar tak lagi mengkonsumsi gaya kehidupan kota
yang sebenarnya tak bersahabat, agar desa tak lagi mengkonsumsi gaya
moderenisasi yang menghancurkan negeri sendiri.

hidup yang maksimal

Setiap orang mendambakan masa depan yang lebih baik ; kesuksesan dalam karir,
rumah tangga dan hubungan sosial, namun seringkali kita terbentur oleh berbagai
kendala. Dan kendala terbesar justru ada pada diri kita sendiri.
Melalui karyanya, Joel Osteen menantang kita untuk keluar dari pola pikir yang
sempit dan mulai berpikir dengan paradigma yang baru.
Ada 7 langkah agar kita mencapai potensi hidup yang maksimal :
* Langkah pertama adalah perluas wawasan. Anda harus memandang kehidupan ini
dengan mata iman, pandanglah dirimu sedang melesat ke level yang lebih tinggi.
Anda harus memiliki gambaran mental yang jelas tentang apa yang akan Anda raih.
Gambaran ini harus menjadi bagian dari dirimu, didalam benakmu, dalam percakapanmu,
meresap ke pikiran alam bawah sadarmu, dalam perbuatanmu dan dalam setiap
aspek kehidupanmu.
* Langkah ke dua adalah mengembangkan gambar diri yang sehat. Itu artinya Anda harus
melandasi gambar dirimu diatas apa yang Tuhan katakan tentang Anda.
Keberhasilanmu meraih tujuan sangat tergantung pada bagaimana Anda memandang
dirimu sendiri dan apa yang Anda rasakan tentang dirimu. Sebab hal itu akan menentukan
tingkat kepercayaan diri Anda dalam bertindak. Fakta menyatakan bahwa Anda tidak akan
pernah melesat lebih tinggi dari apa yang Anda bayangkan mengenai dirimu sendiri
* Langkah ke tiga adalah temukan kekuatan dibalik pikiran dan perkataanmu.
Target utama serangan musuh adalah pikiranmu. Ia tahu sekiranya ia
berhasil mengendalikan dan memanipulasi apa yang Anda pikirkan, maka ia
akan berhasil mengendalikan dan memanipulasi seluruh kehidupanmu.
Pikiran menentukan prilaku, sikap dan gambar diri. Pikiran menentukan tujuan.
Alkitab memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran.
* Langkah ke empat adalah lepaskan masa lalu, biarkanlah ia pergi...
Anda mungkin saja telah kehilangan segala yang tidak seorangpun patut mengalaminya
dalam hidup ini. Jika Anda ingin hidup berkemenangan , Anda tidak boleh memakai
trauma masa lalu sebagai dalih untuk membuat pilihan-pilihan yang buruk saat ini.
Anda harus berani tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan atas sikap burukmu
selama ini, atau membenarkan tindakanmu untuk tidak mengampuni seseorang.
* Langkah ke lima adalah temukan kekuatan di dalam keadaan yang paling buruk sekalipun
Kita harus bersikap :" Saya boleh saja terjatuh beberapa kali dalam hidup ini, tetapi
tetapi saya tidak akan terus tinggal dibawah sana." Kita semua menghadapi
tantangan dalam hidup ini . KIta semua pasti mengalami hal-hal yang datang
menyerang kita. Kita boleh saja dijatuhkan dari luar, tetapi kunci untuk hidup
berkemenangan adalah belajar bagaimana untuk bangkit lagi dari dalam.

* Langkah ke enam adalah memberi dengan sukacita. Salah satu tantangan terbesar
yang kita hadapi adalah godaan untuk hidup mementingkan diri sendiri.
Sebab kita tahu bahwa Tuhan memang menginginkan yang terbaik buat kita,
Ia ingin kita makmur, menikmati kemurahanNya dan banyak lagi yang Ia sediakan buat kita,
namun kadang kita lupa dan terjebak dalam prilaku mementingkan diri sendiri.
Sesungguhnya kita akan mengalami lebih banyak sukacita dari yang pernah dibayangkan
apabila kita mau berbagi hidup dengan orang lain.

* Langkah ke tujuh adalah memilih untuk berbahagia hari ini. Anda tidak harus menunggu
sampai semua persoalanmu terselesaikan. Anda tidak harus menunda kebahagiaan
sampai Anda mencapai semua sasaranmu. Tuhan ingin Anda berbahagia apapun kondisimu,
sekarang juga !

( Dikutip dari : Mencapai potensi hidup yang maksimal by Joel Osteen)

JIKA KU PUNYA 1 MILYAR


copas : TOM JON


Jika Aku Punya Uang 1 Milyar kawan, aku akan meninggalkan pekerjaanku yang sekarang, aku akan pergi ke kampung tempat aku lahir dan memborong tanah 7 hektar milik warga sekitar. Kemudian membeli 3000 batang bibit karet unggul dan 1000 batang karet lokal yang akan ku jejalkan di tanah terjanji itu. Kemudian aku akan membuat pondok 10x7 meter 2 latai disana. Pondok yang terbuat dari kayu kayu bulat yang tak digerus dengan mesin. Membuat kebun jagung dan sayuran organik disekeliling rumah. Menanam tumbuhan holtikultura agar kebunku jauh dari gangguan hama.

Jika Aku Punya Uang 1 Milyar kawan, aku sudah dipastikan tak akan mau menanam sawit di kampungku. Kebetulan ada beberapa teman dekatku menjadi aktivis WALHI. Kalau aku menanam sawit pupuslah sudah persahabatan ku dengan mereka. (Bukankah ditinggal sahabat sangat menyakitkan kawan?).

Jika Aku Punya Uang 1 Milyar kawan. Aku akan sangat senang kembali ke kota sejenak, mencari kamera SLR idamanku (nikon D90), agar saat tinggal di kampung aku bisa mendokumentasikan orang-orang yang punya mimpi sederhana disana. Agar aku bisa belajar bijaknya orang-orang desa dengan tanpa bertanya, cukup memotret saja. Karena selama ini aku lebih banyak belajar dari foto-foto yang kubuat.

Jika Aku Punya Uang 1 Milyar kawan, saat singgah sejenak di kota, aku tak ragu mencari orang yang ingin menggadaikan Fender Stratocoaster American Delux buatan tahun 80an kebawah, plus efect dari 14 rangkaian stombox, 1 unit amply marshal, seperangkat tama drum set, 1 unit fender jazz bass, 1 buah mixer dengan bar memadai, 1 korg tipe lama 4 box sound besar. Alat-alat itu juga menjadi bagian misiku memasyarakatkan rock n roll dan merock n roll kan masyarakat, agar orang-orang di kampungku tak lagi kebanyakan mendengarkan lagu-lagu alai yang cemen. Lagu-lagu yang cuma mengobral cinta imitasi dan tolol. Agar orang-orang sadar, sebenarnya orang kampung tak begitu suka lagu dangdut (Sebenarnya mereka berjubel di konser dangdut karena erotisme para penyanyi perempuannya). Aku yakin aku bisa merubah selera musik, setidaknya anak muda di kampungku (Buktinya sepupuku kini sudah suka rock n roll seperti aku).

Jika Aku Punya Uang 1 Milyar kawan, rekan-rekanku di the Brenkseks akan ku ajak ngejam 3 hari sekali di studio rumahku yang sederhana itu, agar para anak muda di kampungku tahu kalau kenikmatan ‘wild’ itu tak hanya didapat dari menegak tuak 8 gelas tiap malam, tapi cukup memainkan rock n roll dengan ekspresif. Agar mereka tahu meratapi kesedihan dan penatnya beban hidup tak hanya bisa diceritakan dalam arak tanak (arak yang disuling dengan kayu bakar), kepedihan itu juga bisa digerus hanya dengan memainkan blues, (tak perlu terlalu jago memainkannya, cukup dengan penghayatan).

Jika Aku Punya Uang 1 Milyar kawan, aku akan membeli sebuah mobil pick up sederhana yang mampu menembus rusak beratnya jalan ke kampungku, rencananya akan kupakai untuk akomodasi misi rock n roll ku dan mengangkut karet hasil sadapan warga sekitar. Dengan mobil itu pula rencananya akan kupakai untuk mengajak anak-anak es de di sana berkeliling camping ke hutan-hutan disekitar desa, agar mereka bisa merasakan nikmatnya hidup sejenak lepas dari beban mereka selama ini.

Jika Aku Punya Uang 1 Milyar kawan, aku akan membeli streo set secukupnya, untuk mendukung misi rock n roll ku, yang akan kugunakan untuk memutar The Brandals dan The Sigit dkk saban pagi, Erick Clapton dkk saban siang, level 42 setiap sore, rancak melayu serantau menjelang petang dan slank dkk malam hari. Itu pun kalau pak kades, perangkat desa dan tetua adat tak keberatan.

Jika Aku Punya Uang 1 Milyar kawan, aku juga berencana membeli satu set meja Billyar, yang konon harganya cuma 15 jutaan. Aku berencana mengajarkan kompetisi tanpa judi di sana, agar orang-orang yang kalah pun bisa tetap tertawa. Aku akan mengkampanyekan sabung ayam yang jadi hiburan mereka selama ini sama sekali tak menarik dan terlihat tolol (Bukankah mereka lebih baik adu panco ketimbang menyabung hewan-hewan bodoh itu?).

Jika Aku Punya Uang 1 Milyar kawan, aku akan dengan senang hati juga membangun mini bioskop Misbar (kalau gerimis bubar), agar warga di desa ku bisa menonton film-film Tom Hanks, Nicolas Cage, John Travolta, Mel Gibson, Jet Lee, Dony Yen, Toni Jaa, Leonardo Dicaprio, Mila Jovovic, Hugh Jackman, Johny Deep, dan film-film besutan Mira Lesmana dkk. Agar orang-orang dikampungku tak lagi menonton sinetron-sinetron yang juga cuma jual cinta para orang kaya yang gila harta, mertua bengis dan menantu penyabar (yang juga tolol, padahal sudah dijalimi berkali-kali tapi masih sok sabar). Agar orang-orang dikampungku tak lagi menonton sinetron-sinetron norak yang menjual tahayul tentang cerita lagenda basi yang diangkat lagi dengan menjual special efect yang tak kalah tolol dengan si pembuatnya. Atau sekalian aku memasang jaringan tv kabel di sana, agar cakrawala luasnya dunia ini juga bisa diketahui warga kampungku.

Jika Aku Punya Uang 1 Milyar kawan, aku akan memasang jarigan internet di rumah ku yang sederhana itu, agar para sepupu dan kerabat ku juga bisa punya email, punya facebook, dan memberi kesempatan mereka untuk tweet Barak Obama—presiden kesohor itu.

Jika Aku Punya Uang 1 Milyar kawan, aku tentunya tak akan berminat menjadi pegawai negeri (abdi negara) yang konon katanya kalau masuk mesti keluar duit 35 juta untuk tamatan SMA seperti ku dan 65 juta untuk lulusan S1. Kalau benar kondisinya seperti itu, ngapain juga coba jadi PNS, udah ngeluarin duit puluhan juta, datang kekantor juga masih harus manut-manut disuruh motocopy (mendingan ongkang-ongkang kaki menjalankan misi rock n roll). Mendingan uang puluhan juta itu untuk menambah modalku membuka kios sembako di kampung.

Oh ya kawan, Jika Aku Punya Uang 1 Milyar, aku juga akan mengajak pacar ku yang sekarang menikah, dan menghasutnya untuk menjalani hidup bersamaku dikampung itu. Kami akan punya anak 5 orang yang dijadwalkan keluar dengan edisi terbatas tiap 2 tahun sekali. Maklumlah kawan, dikampung tak begitu banyak hiburan duniawi, wajar kiranya hiburan paling indah adalah bercengkrama dengan istri yang setia (Disamping misi rock n roll tentunya). Tapi kawan, kalau pacar ku menolak, ya terpaksa dipending dulu nikahnya sampai Ia sadar bahwa dikampung juga berprospek.

Kawan, Jika Aku Punya Uang 1 Milyar, tentunya emak dan bapakku tak lagi bekerja membanting tulang, mereka cukup ikut bersamaku menikmati ketenangan di kampung. Aku pastikan merka tak akan menolak. Adik ku juga tinggal menyelesaikan kuliahnya dan mencari suami baik-baik, kalau ia tak keberatan, akan ku ajak juga tinggal di kampung yang tenang itu kawan.

Sayangnya, sampai hari ini aku belum tahu dari mana bakal datang 1 Milyar itu kawan. Dengan pekerjaanku yang sekarang, uang satu Milyar hanya mungkin dicapai dalam 53 tahun setengah—kalau menunggu itu tentunya aku sudah jompo kawan. Sebenarnya aku ingin mencari pekerjaan lain biar cepat kaya, tapi sayangnya Tuhan tak memberi aku multy talenta, bakatku sebenarnya hanya ada di pekerjaanku sekarang. Mau tak mau aku bertahan sementara dengan bekerjaan yang memeras otak ini kawan, meski hasilnya tak sebanding resiko (malah jauh panggang dari api), nyatanya aku cukup menikmatinya.

Biarlah sementara ini cuma menjadi angan-angan, toh belum ada UU, PP, Kep Men, Perda atau perbub sekalian yang melarang kita bermimpi. Jadi, semua mimpi itu bakal kuwujutkan Jika Aku Punya Uang 1 Milyar kawan

जीवा यंग sesat

Jiwaku tersesat..
Dimana cahaya itu..
Pekat, gelap..
Telah meredup..
Hilang..
Iya kembalikan aku pada iblis..
Malaikat menangis..
Iya pergi..


Tinggalkan aku terjatuh pada jahanam benci..
Setelah iya pernah angkat aku melihat cahaya terindah paling terang..
Kini hanya jasad tak berjiwa..
Dulu aku pernah ucapkan pada malaikatku..
Hingga jasad ini terpisah oleh roh..
Iya masih menyimpan cinta dihati yang telah dingin oleh kematian..
Tapi hati itu tak terjamah olehnya..

Hingga iya tinggalkan aku, bunuh semua rasaku, dan kubur aku pada suatu yang kutakutkan..
Kesakitan sempurna..

TUKANG BAKSO


Kejadian ini bermula ketika secara tak sengaja aku berpapasan dengan tukang bakso keliling yang biasa beredar di depan rumah. Siang itu, kulihat dia tengah berasyik di pinggir jalan, cekikikan sambil melihat sesuatu yang ada di tangannya. Bahkan saking asiknya, gerobak mie ayam itu ditinggalkannya begitu saja, seakan mengundang pemulung jail untuk memanfaatkan segala kekayaan yang ada didalam gerobak yang jika ditaksir BANK tidak akan lebih dari Rp 300 ribu
karena langganan dan penasaran, kuhampiri dia
"Mas ndo…. (panggil saja demikian, karena dia sering dipanggil wondo sama pelanggannya

"mas .. beli bakso harge 3000 kasi kuah yang banyak plus mie kuning dan putih banyakin juga, oya bulatanya kasi bonus ya ..\(baca: lapar tapi duit pas-pasan)
Lagi ngapa tanyaku selembe…..
"Eh mas ganteng...( satu hal yang aku suka dari Wondo adalah : Orangnya suka bicara Jujur…ehem!!!),
Ni mas Nok, lagi update status!!..."
WADEZIG…GUbruk (baca: suara hati..)!!

"weehhh... mas ndo fesbukan juga to??" tanyaku heran
"Ya iyalah mas... hareee geneee ga fesbukan?!.. . Lagian kan lumayan juga buat menjaring pelanggan lewat fesbuk.//

kata pak Hermawan Kertajaya (baca: Ekonom Top Indonesia) dalam berdagang kita harus selalu melakukan diferensiasi termasuk dalam hal pemasaran mass.. "
GLEK!! (rasa disambar petir hatiku…)
mungkin karena menghabiskan waktu liputan aku sampai tak tau ternyata Hermawan Kerta Jaya ternyata seorang Ekonom. Yang kutau sekarang adalah KETARO JAYO itupun Motor Bandung pengangkut getah Kulat dari JOngkong Kepontianak
"emang mas ndo statusnya apa?" tanyaku penasaran
"nih mas aku bacain : Promo Bakso Mas Wondo, beli dua gratis satu mangkok, beli tiga gratis nambah kuah, beli empat gratis timbang badan... takutnya anda obesitas... segera saya tunggu di gang Wisata Baning, 50 meter dari Akper SIntang. Bakso Mas Wondo : Melayani dengan Hati... ampela, usus dan jeroan serta berbagai rasa Bakso lainnya.."
GUBRAK!!.........&*#@#@!!!!^%%^^ Dua kosong untuk mas Wondo....

saya sendiri sudah lama fesbukan Cuma untuk interaksi dengan kawan-kawan Atopun syering, tapi tidak sehebat wondo yang telah memainkan system market melalui iklan gratis di jejaring fesbuk, dan ternyata system ini sukses menembus pasar, dan menurut pengakuan wondo jika dibandingkan dengan pola marketing pemukulan mangkok seperti beberapa tahun lalu ternyata kurang efektif.. belum lagi kerugian ketika mangkok itu pecah karena dipukul terlalu keras karena emosi (baca: bakso yang tidak laku )
coba bayangkan kalo saya harus iklan dikoran kapuas post, tribun pontianak, ato di tipinya mas berapa yang harus saya bayar mendingkan pake fesbuk
Namun naluri journalis tak hengkang begitu mudah karena kalah dengan seorang tukang bakso..
kulirik ke henpon yang dia pake aku kira henponnya blekberi atau minimal nokia seri baru yang uda bisa pake internetan. Selidik punya selidik, ternyataa... henponnya lawas bin jadul... HP yang masih monokrom, suara belum poliponik, dan masih pake antena luar kayak radio AM
"mas, tapi kok bisa update fesbuk pake henpon sederhana gitu? (baca : pola bahasa halus ala jornalis) Gimana caranya??
"Owwh.. gampang mas, saya tinggal nulis statusnya lewat SMS lalu kirim dengan Tri? jawab dia datar

"Ohh.. mas nya pake Kartu Three ya? Yang gratis internetan itu?" tapikan disintang kartu Tri belum ada signal
" Bukaaaan mas, Tri itu lengkapnya Tri Ambarwati... Dia itu pacar saya, sama-sama dari Tegal, yang kerjaannya jagain Warnet 24 Jam! Jadi kalo butuh update, tinggal sms dia aja nanti dia yang gantiin status saya, Lha wong dia tiap hari di depan komputer jagain warnet. Paling sebagai balesannya saya gratisin mie ayam seminggu sekali... murah to... jika disbanding harus kewarnet mas nok yang kudu bayar 3000 se-jam"

Du@@rRRRR…..hancur hatiku……

Mendadak kepalaku pusing, kecerdasannya bertambah karena selain efektivitas marketing ia juga menggunakan system minimalisasi biaya dengan memanfatkan tenaga seorang pacar, bayangkan betapa murahnya jika semangkok bakso ternyata bisa digunakan untuk update status setiap saat….
Bagaikan menderita dehidrasi akut pluss hipotermia tingkat tiga, aku limbung mendengar jawaban spektakuler dari mas wondo... BRUK!!
"lho mas.. mas... jadi beli bakso ndak...kepriben iki?"
MAU UPDATE STATUS GRATIS PAKE TRI
MAU???