

Tuhan, selama ini aku protes denganmu melalui doa, tapi mungkin engkau
lupa atau jenuh dengan doaku sehingga tadahan tangan engkau abaikan.
Tuhan ... Hakmu memang menegur sang hamba yang lalai, tapi mengapa
justru engkau lupa atas mereka yang zalim, mengapa tidak yang zalim
aku dilahirkan disebuah desa kecil yang mengapung diatas aliran sungai
kapuas, masa kecil disana kuhabiskan dengan berkutat diliarnya
naturalisme alam, sejuk, indah, air yang jernih, ratusan spesies ikan
air tawar serta kesejukan hembusan angin yang tak pernah luput
membelai kulit tubuhku yang kusam.
Beranjak dewasa, pemerintah menuntut agar anak anak bangsa memakan
bangku sekolah, katanya agar penghuni negeri ini lebih pintar dan
tidak tertinggal dari negara eks penjajahan (baca;jepang). Mungkin
karena orang tuaku seorang guru sehingga ia merasa malu kalau aku
tidak ikut talian negara atau titah sang kepala negara.
Massa itu aku tidak banyak tau menau, yang terngiang aku harus kekota
untuk sekolah. Berat meninggalkan kampung yang selalu merangkulku
dalam keakraban, dan pastinya hanya air mata yang menjadi tanda bahwa
aku sayang dengan apa yang ada didesa.
Sekolah menegah pertama aku lewati, kerinduan kampung sepertinya tak
bisa ditahan lagi, meski tak ada restu orang tuaku aku meluncur dengan
sebuah bis tua bersama iringan salam lubang dalam serta kerikil tajam
yang ada disepanjang jalan.
Menatap bibir kampung dari kejauhan tak terlihat ada perubahan, namun
ketika aku transit dari bis ke perahu kayu untuk mencapai kampungku
mulai terlihat ada yang berbeda.
Sungai yang dulunya hanya dihiasi ranting ataupun batang kayu yang
hanyut sekarang malah berganti barisan telampung pukat penangkap ikan,
warga kampung yang sebelumnya hanya mengayuh sampan kini sudah
berganti speed meski hanya berkekuatan 2,2 pk.
Sejenak kulihat kampungku yang masih berjarak 300 meter didepan,
susunan rumah belum terlihat ada perubahan, Alhamdullillah aku sampai.
Peluk dan cium uwak uwak (panggilan bibi di kapuas hulu) sepertinya
menandakan kerinduan yang besar, bahkan para tetangga juga ada yang
mendampingi sekedar ingin melihat apakah itu saya, yang beberapa tahun
lalu meninggalkan desa untuk memenuhi keinginan sang kepala negara.
beranjak malam, aku mulai merasa tidak seperti dikampung sendiri,
suara jankrik yang menjadi teman bercanda sekarang sudah berganti
suara berisik mesin doumpeng pengganti nyala pelita. Ah..... Mungkin
ini sebagian yang dinginkan pemimpin negeri agar rakyatnya pintar.
Dulu jika magrib menjelang puluhan muda mudi memenuhi kerarin
(jembatan desa) untuk berbondong kemasjid tertua yang ada
didesa,sholat mengaji belajar bersanji dan belajar agama. Tapi
sekarang ini shap masjid kulihat tinggal satu baris itupun hanya
terisi satu imam didepan, seorang bilal dan 2 warga yang tinggal tak
jauh dari masjid berada, sisanya aku perhatikan cendrung memilih
berada didepan tv hitam putih dengan kedipan cahaya yang menyakitkan
mata, teman-temanku yang dulu seirama jika barsanji, kini mulai
berubah serirama dengan dendangan lagu rhoma irama yang slalu stanby
dilayar kaca, apakah ini bagian dari keinginan pemerintah pikirku saat
itu.
Wah ...apakah ini juga bagian yang diinginkan pemerintah pikirku kala itu.....
Perubahan memang belum begitu tampak jelas, dan mungkin ada beberapa
kemungkinan, pertama pendidikan belum maju atau kedua orang desa yang
memang masih lugu ( termasuk aku wkwkwk).
Kembali kekota dengan menyandang celana panjang abu abu bagi orang
mungkin sudah biasa, tapi bagi orang desa sepertiku beban abu abu
cukup berat, bukan karena tak mampu berfikir tetapi berat karena biaya
sekolah massa itu sangat mahal apalagi abu abu yang aku pakai
beratribut milik dan dikelola swasta.
tak perlu dipaparkan luka luka dan liku liku selama menyandang gelar
abu abu. aku kembali kedesa........"
dan lagi aku terperangah, mesin spead 2,2 pk kini sudah berganti long
boat berkekuatan 40 hingga 100 pk, pukat pukat kecil juga berganti
jermal jermal raksasa, luar biasa dalam hatiku berkata "ini kemajuan
atau kehancuran, inikah yang diinginkan negeri. "
300 meter dari bibir desa kulihat tanah lapang dimana dimana, bahkan
ada setumpukan tanaman hijau kekuningan juga.
"nun kebun sawit kawan, pemerintah membawa orang kaya kedesa kita
untuk buatkan kebun, kita nanti dapat bagi juga," aku tersentak
mendengar ucapan teman yang mengemudikan spit dibelakangku, dia
ternyata teman ku waktu kami masih mengemban amanah sekolah bercelana
merah.
Belum 200 meter ke bibir kampungm air dulunya kulihat jernih sekarang
terlihat putih bak tumpahan susu.
"biasa air tu kawan, tu air bekas aliran kerja emas mesin jack dihulu
sungai, ku ninga hasil lumayan besar" lagi cerocosan sang sahabat
kudengar dari belakang.
Inikah kampung danau sekulatku, inikah nibung ku, inikah selimbau ku.
Mana keramahan mereka, mana keramahan para sanak famili. Sekarang
semua terlihat sibuk. Siang hari sepi, malam sepi masjid pun sudah tak
seperti dulu.
penasaran dengan apa yang ada, aku pergi ketempat kebangganku dulu
danau sentarum, yah danau sentarum. Tempat ini semasa kecil adalah
tempatku bermain sambil bekerja membantu mak ngah yang hidup dari
menyalai ikan, tapi lagi lagi aku kecewa, danau sentarumpun sudah
tidak seperti dulu, tak ada lagi ikan ikan yang bisa kutangkap hanya
dengan tangan, yang terlihat tinggal hamparan jermal. Ikan arwana yang
dulu jadi santapan biasa sekarang sudah tinggal lagenda.
Prihatin didalam hati dengan kondisi ini, kenapa ketika semua
bertebaran dimana-mana sawit,jermal,emas tidak bisa membahagiakan
warga desa,buktinya wajah rumah rumah desa tetap sama, lanting lanting
danau sekulat tetap sama, dinding kulit kayu, batangan lanting yang
lapuk, gubuk gubuk tua yang seharusnya sudah pensiun lama tetap saja
ada.
dalam hati "aku harus bicara, aku harus bisa kembalikan warna desa
meski tidak seperti semula, tapi dengan apa"
Kembali aku kekota sintang dengan selimut persoalan desa, dalam hati
berjanji ingin memperbaiki negeri sendiri, tapi dengan apa, ananda
bukan orang kaya,.
Waktu berjalan seperti roda pedati.kala itu stasiun tv pemerintah di
kalimantan barat membuka peluang kerjanya, setah berkutat dengan
beberapa teori akupun katanya boleh bergabung meski dengan sebuah
batasan batasan.
Yessss.... Dalam hatiku aku bisa menyuarakan apa yang ada didesa.
Akukan kembalikan desaku meski tak seperti semula, akukan kembalikan
kepercayaan diri desa agar tak lagi mengkonsumsi gaya kehidupan kota
yang sebenarnya tak bersahabat, agar desa tak lagi mengkonsumsi gaya
moderenisasi yang menghancurkan negeri sendiri.

