Kamis, 02 Agustus 2012

DUIT SETA MAKAN JIN II

Melintasi sebuah kota yang kulihat berpapan plang (SHIBU CITY) mobil terhenti disebuah bank internasional, kurang dari 20 menit si tinggi besar yang akhirnya kuketahui berstatus SAMSENG (orang suruhan) membawa sebuah amplop coklat dan menaruhnya dipangkuanku yang cuma bisa diam. "Ini cik, anggap saja saye beli kaset cik" Tanpa ragu kuberikan dia kaseet yang sudah kutukar dengan kaset kosong, tapi disitulah gobloknya si samseng, kaset yang diberi langsung diinjak hingga hancur, dan berkata "Dan bile dah macam ni maka usailah kisah kita " Ketakutan baru kurasa setelah ia berkata demikian, mobil kembali berjalan kencang ditengah kota dan dengan senyum kemenangan dia pun bercerita tentang sebuah hotel yang biasa ia fasilitasi untuk penginapan pejabat2 dari indonesia, (anjink..kata hatiku) Teringat kalimat saat menginjak kaset yang kuberikan "Dan bile dah macam ni maka usailah kisah kita " Ketakutan kembali hantui dan tanpa berfikir panjang ku bilang padanya. "Cik, tlg antarkan saya ke kedutaan besar karna pasport saya tak ada dan saya datang kesini atas perintah pemerintah republik indonesia " (padahal gak ada perintah) Mendengar yang kuucap sang samseng kecut dan seperti ada raut ketakutan dari wajahnya yang sangar. "Cik, cik sini ialajh tamu saya, jadi tak usahlah, nanti cik saya antar ke gate entikong dan saya akan urus semua dan cik tak perlu kekedubes, keselamatan cik saya jamin," katanya. "Apa jaminannya" "Jaminannya adalah N******G," hemm, kutau nama yg disebutkan itu adalah nama petinggi oknum hijau. ok kataku, tapi saya nak pinjam talipon nak talipon orang, diberikannya hape canggih padaku dan ku telp seseorang, minimal dengan harapan ada yang tau jika terjadi sesuatu padaku. Singkat cerita, aku diantar ke gate indonesia malaysia, dan by by... Menginjak tanah indonesia ku tarik napas panjang tanda mardeka, tak lupa kubuka sebuah amplop coklat ternyata berisi uang 20 ribu ringgit, dan jika dikalkulasikan dengan rupiah pada saat ini nominalnya mencapai 40 juta rupiah, cukup fantastis pada waktu itu. 2 hari setelah itu meski kuterima uang dari sang rampok kasus tetap kupublikasikan kl tak salah kusiarkan di LATIVI al hasil kasus geger sejumlah petinggi polri dan TNI seperti seterikaan bolak balik jakarta entah karna apa kutak tau. Selanjutnya ku dipanggil seorang jendral melalui telp, singkat cerita dia minta semua data dan siap membackup jika ku diancam. Merasa dibela ku buka semua kisah yang kutemui dilengkapi data lapangan dan mengejutkan, sang jendral angkat telp dan berkata. "Bang si wartawan skrg ada didepan saya, datanya lengkap," Sialan, yg ditelponnya ternyata org yang terlibat dengan kasus itu, dan tanpa babibu aku langsung keluar ruangan. belum sepuluh langkah hape jadulku berbunyi diujung sana berkata" eh kau, kalau mau hidup hentikan semua, atau kau akan aku karungi." Tepat dugaanku jaringan tingkat tinggi bermain, untung ada seorang oknum yang kuselamatkan dan siap membantuku, dengan diberikan sedikit modal bernilai wah, kuputuskan untuk aku menghilang dari kalimantan,... Bersambung,,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar